Kapan Peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi?

0
56

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillahirabbil ‘Aalamiin, Wash shalatu wassalamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursalin, sayyidina wa habibina wa maulana wa qurrati a’yunina muhammadin, Wa ‘alaa aaliihi wa ashhaabihi, Wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin. Rabbi israhli shadri wa yassir li amri wa ihlul uqdatan min lisani yafqahu qauli. Rabbi zindaa ‘ilmaa warzuqna fahma. Aamiin Ya Rabbal ‘aalamiin

Amma ba’du

Para pembaca yang berbahagia, hari ini aku ingin mengumpulkan pendapat para Ulama mengenai kapan Isra’ dan Mi’raj terjadi. Beberapa sumber yang akan dimasukkan dalam catatan kecil ini antara lain:

  1. Ibnu Katsir (Penulis Bidayah wan Nihayah)
  2. Muhammad Quraish Shihab (Pengarang Tafsir Al-Misbah)
  3. Wahbah Az-Zuhaili (Pengarang Tafsir Al-Misbah dan Fiqhul Islam wa Adillatuh)
  4. Syaifurrahman Mubarrakpurri (Penulis Sirah Nabawiyyah)

Seperti yang kita kenal, bahwasanya, Isra’ adalah peristiwa perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Sedangkan, Mi’raj adaah Perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha.

Seputar perbedaan pendapat mengenai peristiwa ini adalah soal waktu kapan terjadinya dan apakah perjalanan Nabi ini dengan ruh dan jasad atau hanya ruh saja, atau hanya mimpi.

Baik, mari kita bahas bagaimana empat Pakar berbicara mengenai peristiwa ini.

Ibnu Katsir

Ibnu Katsir memberikan keterangan Isra’ dan Mi’raj dalam Bidayah wan Nihayah [keterangan yang ditulis disini diambil dari terjemahan Ringkasan Bidayah wan Nihayah] dengan sumber yang disampaikan oleh Ibnu Ishaq bahwa Peristiwa Isra’ terjadi pada sekitar sepuluh tahun setelah tahun kenabian kemudian setelah itu Khadijah dan Abu Thalib meninggal dunia.

Muhammad Quraish Shihab

Ust. Muhammad Quraish Shihab menjelaskan [melalui yutub] Bulan Rajab itu sering dinamai dengan Bulan Isra’ Mi’raj. Bulan dimana Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa yang agung. Umumnya, masyatakat memperingatinya pada 27 Rajab.

Akan tetapi, menurut Ust. Muhammad Quraish Shihab, dalam hal berdakwah menyangkut sejarah, Ulama besar berikap longgar. Beliau menyebutkan bahwa ada 15 pendapat ahli hadits tentang peristiwa Isra Mi’raj

Tiga pandangan Ulama:

Pertama, ada yang berkata Rabi’ul Awal pada saat Nabi diangkat menjadi Rasul, peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada tahun itu.

Kedua, ada yang berpendapat Ramadhan, pada tahun kesepuluh Hijriyah.

Ketiga, ada yang berkata setahun sebelum Nabi berhijrah, dan masih banyak lagi pendapat.

Ust. Muhammad Quraish Shihab tidak mengetahui pertimbangan tentang tanggal 27 Rajab sebagai waktu terjadinya Isra Mi’raj.

“Meski para ulama berbeda pendapat tentang kapan waktu Isra’ Mi’raj dan makna dari dua kata tersebut, tetapi yang pasti adalah Isra’ benar terjadi dan tidak boleh diingkari,” Kata Ust. Muhammad Quraish Shihab.

Mereka yang tidak mempercayai Isra’ maka dinilai keluar dari Islam sebab peristiwa itu ada di dalam Al-Qur’an.

Wahbah Az-Zuhaili

Penjelasan Isra’ dan Mi’raj yang ditulis Syeikh Wahbah Az-Zuhaili bisa ditemukan dalam Kitab Fiqhul Islami wa Adillatuhu Bab Shalat [Pensyariatan Shalat].

Syeikh menyebutkan “Sebagian ulama Hanafi mengatakan bahwa shalat difardhukan pada  malam Isra’ sebelum hari Sabtu tanggal 17 Ramadhan satu setengah tahun sebelum Hijrah. Namun, al-Hafiz Ibnu Hajar mengatakan shalat difardhukan pada tanggal 27 Rajab, dan pendapat ini diikuti oleh umat Islam di berbagai negara”.

Syaifurrahman Mubarrakpuri

NU online menerbitkan sebuah artikel berkenaan Isra’ dan Mi’raj yang ditulis oleh Ust. Syaifurrahman Mubarrakpuri dalam Raḫîqul Makhtûm dalam Sirah Nabawiyah. Ada 6 pendapat kapan terjadinya Isra’ dan Mi’raj. Manakah yang benar? Simak penjelasan berikut!

Pertama, Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tahun ketika Allah mengangkat Nabi Muhammad saw menjadi seorang nabi. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam ath-Thabari.

Kedua, Isra’ dan Mi’raj terjadi jarak lima tahun setelah Nabi Muhammad diutus menjadi rasul. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam an-Nawawi dan Imam al-Qurthubi.

Ketiga, Isra’ dan Mi’raj terjadi pada malam 17 Rajab tahun ke-10 dari kenabian (nubuwah). Pendapat ini dikemukakan oleh Al-‘Allamah al-Manshurfuri.

Keempat, Isra’ dan Mi’raj terjadi pada jarak enam bulan sebelum peristiwa hijrah, atau pada bulan Muharram tahun ke-13 dari kenabian (nubuwah).

Kelima, Isra’ dan Mi’raj terjadi jarak satu tahun dua bulan setelah hijrah, atau bertepatan dengan bulan Muharram tahun ke-13 dari kenabian (nubuwah).

Keenam, Isra’ dan Mi’raj terjadi jarak setahun sebelum hijrah, atau bertepatan bulan Rabi’ul Awwal tahun ke-13 dari kenabian (nubuwah).

Lebih lanjut, al-Mubarakfuri menjelaskan, tiga pendapat pertama dianggap tertolak dengan pertimbangan Siti Khadijah (istri Nabi) wafat pada bulan Ramadhan tahun ke-10 dari kenabian (nubuwah).

Sedangkan tepat di hari kewafatannya belum disyariatkan kewajiban shalat lima waktu.

Sementara tiga pendapat terakhir, lanjut al-Mubarakfuri, juga tidak memiliki data atau argumen penguat. Tapi yang jelas, surat Al-Isra menjelaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada masa akhir-akhir. 

Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra’ dan Mi’raj. Hal ini didukung oleh Syekh Badruddin Abu Muhammad al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qârî Syaraḫ Saḫîḫi Bukhârî dan Imam an-Nawawi dalam Al-Minhâj Syaraḫ Shaḫîḫ Muslim yang menyebutkan beberapa versi tanggal terjadinya Isra’ dan Mi’raj.

Demikian, kumpulan penjelesan mengenai kapan Isra’ dan Mi’raj terjadi dari sudut pandang berbagai Ulama. Semoga bermanfaat.

Wallahua’lam

LEAVE A REPLY