Tasawuf Akhlaki (bag. 1)

0
327
Seorang sedang sujud dalam shalat

Tasawuf akhlaki bermakna membersihkan tingkah laku atau saling membersihkan tingkah laku. Tasawuf akhlaki bisa dipandang sebagai tatanan dasar menjaga akhlak manusia atau moralitas masyarakat.

Sebagaimana  hadits Nabi:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq”

Tasawuf akhlaqi merupakan gabungan ilmu tasawuf dan ilmu akhlaq. Tasawuf akhlaqi dapat terealisasi utuh jika pengetahuan tasawuf dan ibadah kepada Allah dibuktikan dalam kehidupan sosial.

Berikut adalah tokoh-tokoh Tasawus Akhlaqi:

Hasan Al-Bashri

Nama lengkapnya adalah Abu Sa’id Al-Hasan bin Yasar, seorang zuhud di kalangan Tabiin. Putra dari Zaid bin Tsabi, seorang budak yang tertangkap di Maisan yang di kemudian hari menjadi sekretaris Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan ibunya adalah hamba sahaya Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad SAW. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H (632 M) dan wafat pada hari kamis tanggal 10 Rajab tahun 110 H (728 H). Ia dilahirkan dua malam sebelum Khalifah Umar bin Khattab wafat dan dikabarkan bertemu dengan 70 orang sahabat yang turut menyaksikan Perang Badar dan 300 sahabat lainnya. Karya tulisnya berisi kecaman terhadap aliran kalam Qadariyah dan tafsir Al-Qur’an.

Ajaran Tasawufnya

Abu Na’im Al-Ashbahani menyimpulkan pandangan tasawuf Hasan Al-Bashri sebagai berikut, “Sahabat takut (khauf) dan pengharapan (raja’) tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan; tidak pernah tidur tenang karena selalu mengingat Allah”. Pandangan lainnya adalah anjuran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya sehingga Sya’rani pernah berkata, “Demikian takutnya sehingga seakan-akan ia merasa bahwa neraka itu hanya dijadikan untuk dirinya (Hasan Al-Bashri)”.

Muhammad Mustafa, guru besar Filsafat Islam menyatakan bahwa tasawuf Hasan Al-Bashri didasari kebesaran jiwanya akan kekurangan dan kelalaian dirinya yang mendasari tasawuf. Sebagaimana hadits Nabi, “Orang beriman yang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah laksana orang duduk di bawah gunung besar yang senantiasa merasa takut gunung itu akan menimpa dirinya”.

Hasan Al-Bashri dalam menyampaikan ajarannya menggunakan dua cara. Pertama, mengajak kembali kondisi masa salaf, yang terjadi pada masa sahabat terutama Umar bin Khattab, yang selalu memegang teguh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Kedua, menganjurkan bersikap zuhud dalam menghadapi kemewahan dunia. Zuhud menurut pengertiannya adalah tidak tamak terhadap kemewahan dunia dan tidak pula lari dari urusan dunia, tetapi selalu merasa cukup dengan apa yang ada.

SHARE
Previous articleDo’a Iftitah
Next articleDo’a Tasyahud Awal
Praktisi multimedia yang melayani pembuatan website, motion graphic, editing video, shooting, dan fotografi

LEAVE A REPLY